Indonesia
mempunyai lautan seluas 3.257.483 km2 . 71
% wilayah Indonesia adalah laut. Indonesia
juga menjadi penyuplai 10 % perikanan di dunia karena kekayaan lautnya yang
melimpah. Bahkan keindahan bawah laut yang dimiliki negara kita terkenal
hingga seluruh penjuru dunia bak surga duniawi. Menurut World Resource Institute,
Indonesia memiliki keanekaragaman terumbu karang tertinggi di dunia. Lihat saja
Raja Ampat, Gili Trawangan, dan lainnya. yang memiliki pesona dan keindahan masing-masing.
Sayangnya, laut kita sudah tercemar. Hanya tersisa 13 % lautan di dunia yang belum
tersentuh manusia. Air Laut Indonesia juga sudah 70% tercemar oleh sampah plastik.
Masih ingat video viral wisatawan
mancanegara yang memperlihatkan kondisi perairan di Nusa Penida, Bali yang tercemar
dengan sampah-sampah plastik di tahun 2018? Lalu, disusul penemuan bangkai paus
Sperma di perairan Pulau Kapota, Wakatobi, Sulawesi Tenggara dengan 5.9
kg sampah plastik dalam perutnya. Inilah gambaran laut kita saat ini. Miris bukan
?
Bangkai paus
Sperma di perairan Pulau Kapota, Wakatobi
Sampah plastik dapat mengakibatkan kematian
pada hewan-hewan laut dan mematikan terumbu karang karena menghalangi masuknya
sinar matahari, sehingga fotosintesa tidak terjadi. Pemulihan terumbu karang
terbilang cukup lama. Dalam kurun waktu tiga tahun, terumbu karang hanya tumbuh
sepanjang 3 cm saja.
Seiring waktu, lembaran plastik akan terurai
dalam ukuran hingga <5 mm a.k.a mikroplastik. Fakta yang dipaparkan Pusat
Penelitian Oseanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2O LIPI) menyebut mikroplastik
dalam air laut Indonesia telah mencapai 30-960 partikel per liternya. Mikroplastik
tidak hanya membunuh biota laut. Dalam jangka panjang, manusia juga akan
terdampak karena mengkonsumsi ikan dan produk laut lainnya.
Seorang diver yang menyelam diantara sampah di perairan pantai Manado, Sulawesi Utara
Lantas apa yang bisa kita perbuat?
Pertama, menumbuhkan
rasa cinta terhadap laut. Jika perasaan itu sudah tumbuh, tentu kita akan
berupaya untuk menjaganya dengan segenap hati. Misal, jika kita punya barang
berharga pemberian dari orang terkasih, pasti kita akan berupaya bagaimana biar
tidak rusak. Hal yang sama pun berlaku.
Kedua, menjadi
generasi yang ramah lingkungan dengan bergabung atau menginisiasi komunitas
pencinta laut/lingkungan. Galakkan kegiatan untuk mengurangi jumlah sampah, lakukan
penanaman bakau, dan lain-lain.
Ketiga, mainkan social media-mu sebagai media
sosialisasi dan promosi dalam menjaga kelestarian laut. Kita bisa mulai dari
hal kecil. Dengan mem-posting sesuatu
yang berkaitan dengan etika lingkungan, misal membuang sampah, kampanye gerakan
pengurangan penggunaan plastik, dan banyak lagi. Aktivitas ini bisa mempengaruhi
generasi muda lainnya, lebih powerful dan impactful
dari gerakan lainnya, apalagi yang jumlah followers-nya
banyak.
Selain itu para pengunjung dan wisatawan harus menuruti
instruksi safety diving guna
melestarikan terumbu karang. Keindahan terumbu karang sering menimbulkan
keinginan pengunjung untuk memegangnya dengan tangan. Padahal, ini tidak
diperbolehkan karena dapat meningkatkan potensi kematian terumbu karang.
Selanjutnya saat snorkeling,
biasanya penyelam secara sadar atau tidak menabrak karang dengan sepatu katak
yang digunakan. Selain menabrak, kebiasaan buruk yang dilakukan pengunjung
adalah menginjak karang dengan fin demi foto-foto bagus.
Padahal kayuhan kaki yang memakai fin dapat
membuat terumbu karang mati.
Ingat ya guys, kewajiban melestarikan alam termasuk laut
adalah tanggung jawab KITA SEMUA.
Tidak adil rasanya membebankan seluruh tugas melestarikan laut hanya pada satu kelompok
saja padahal kita semua turut menikmati dan merasakan manfaatkannya. Tularkan virus
kebaikan ini pada keluarga, teman untuk kemudian ditularkan juga pada orang
lain.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan berkomentar dengan santun :)