Aku belum pernah cerita tentang ini di postingan sebelumnya. Lain kali aku bakalan ceritain full version pengalaman belajar dan kegiatan kami selama mengikuti PBL. So, happy reading for this part.
Ada yang berbeda tentunya antara puasa di tahun ini dan di tahun kemarin.
Masih inget ga? Awalnya, kita (dalam hati) pernah menolak untuk tinggal di desa. Dan ga pengen tinggal di desa. Apalagi untuk kurun waktu yang tidak singkat? Tapi, apalah daya? Siapalah kita? Penolakan itu hanya menjadi khayalan belaka. Tanpa mengikuti MK yang satu ini, maka kita tidak akan bisa lulus dan mendapat gelar sarjana. Iya kan?
Selain jaraknya yang jauh, desa ini juga jauh dari keramaian kota yang sering kami lihat. Cukup berat untuk berpuasa jauh dari keluarga. Apalagi akses sinyal dan internet yang masih sulit, menjadi satu alasan lain yang mendukung. Sedangkan gadget yang kami gunakan sehari-hari membutuhkan itu semua. Lebih dari itu, kami belum mengenal dekat antar satu dengan yang lainnya. Kami berasal dari kelas dan peminatan yang berbeda-beda. Untuk sekedar mengetahui nama, mungkin ya. Tapi untuk mengetahui sifat dan lainnya, kami butuh waktu untuk saling menngenal lebih jauh. Apalagi kami akan tinggal bersama selama hampir 1 bulan. Berbagi bersama dan saling bergantung. Ditambah, tidak ada satupun orang di desa tersebut yang kami kenali, tentu saja kami akan saling mengandalkan satu sama lain.
Jikalau di tahun kemarin, kita sahur dan buka puasa sama-sama, makan-makanan yang kita buat sendiri. Kalo sekarang, kita puasanya sendiri-sendiri, ga satu atap lagi. Ada yang puasa di rumah bareng keluarga, ada yang di kost-an, ada yang lagi penelitian, dan lain-lain.
I missed that time.
Ketika, kita ada jadwal piket buat masak lauk sahur dan berbuka. Yang kalo tiap hari selasa, pasti berbuka dengan lauk dan menu yang sama. Yaps, nasi + sop ayam + tumis sawi + es sirup. Saat kita bangun sahur kesiangan, karena ga ada yang nge-banguni. Saat kita buka puasa dengan donat JCO. Saat kita buka bareng di RM pindang burung ternama disana. Saat kita tarawih yang panjangnya 23 rakaat.Masih ingat momen terakhir kita sebelum pulang ? Kita lupa beli bahan makanan untuk sahur karena yang puasa cuma 5/12 orang dan semua barang kami sudah di antar pulang kerumah. Alhasil kami sahur dengan 1 telur dadar bagi 5 orang dan makan tempe goreng bertabur garam😁. Dan banyak momen-momen tak terlupa lainnya
Tapi apapun itu, meski kita tidak selalu akur, kita pernah tertawa bersama, konyol bersama, stress bersama, panik bersama dan menggila bersama. I missed you all.
Meskipun tidak setiap momen bisa kita abadikan dalam kamera. Semoga kisah ini akan selalu terkenang dan kita ceritakan pada anak & cucu kita nantinya. This story is good to remember but not to be repeated.
Thanks god.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan berkomentar dengan santun :)